Kenapa Linux Mint Cocok Untuk Pemula?

Dari sekian banyak Distro GNU/Linux yang ada didunia, kenapa Linux Mint yang paling cocok digunakan untuk pemula?

Pertanyaan itu sempat juga menggelayuti (jiah, udah kayak monyet aja) benak saya. Dan setelah bertahun-tahun bersemedi, saya-pun akhirnya mendapatkan sebuah kesimpulan.

Linux Mint Distro Paling Banyak Digunakan Didunia?

Alasan pertama tak lain adalah Linux Mint adalah Distro GNU/Linux yang paling banyak digunakan didunia. Setidaknya itu faktor utama sampai akhirnya beberapa tahun belakangan digusur oleh Manjaro dan MX Linux.

Logika sederhananya, semakin banyak orang yang menggunakan (khususnya pemula) berbading lurus dengan “kelatahan” pengguna lainnya.

Lantas dimana Ubuntu?

Menariknya Ubuntu kian hari kian tertinggal jauh oleh “anakannya”

Banyak Direkomendasikan Oleh Pengguna Lintas Generasi

Alasan kedua, Linux Mint banyak direkomendasikan oleh pengguna diluaran sana (internet) baik dari forum, blog, sampai testimoni pribadi.

Menariknya, hal itu keluar tidak hanya dari pengguna pemula saja, namun dari mastah yang sudah sering merasakan kernel piknik (Kernel Panic adalah fenomena yang biasanya muncul ketika ada “error” saat meng-compile kernel).

Menjamurnya Tutorial Mengenai Linux Mint Yang Ada Di Page One

Alasan ketiga, sudah banyak blog yang membahas tutorial menggunakan Linux Mint dari sudut pandang pemula dan mastah.

Dan rata-rata tutorial yang ditulis berasal dari beberapa tahun yang lalu (dimasa kejayaan Linux Mint) sehingga lebih mudah untuk tampil dihalaman pertama mesin pencari.

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, Internet menjadi salah satu media rujukan utama pengguna Sistem Operasi GNU/Linux. Ketika ada “newbie” yang mengetik kata kunci “Belajar Linux” maka yang merajai pejwan adalah artikel Linux Mint.

Mempunyai Tampilan Mirip Windows?

Jika ada bilang bahwa Linux Mint memiliki tampilan mirip Windows, rasanya pernyataan tersebut kurang tepat, atau dilontarkan oleh pengguna yang belum menjelajahi Distro GNU/Linux lebih dalam.

Kenapa saya bilang seperti itu?

Pasalnya, jika yang dinilai adalah “kemiripan interface” maka ada sangat banyak Distro GNU/Linux yang sengaja dibuat dengan tampilan sangat mirip Windows.

Sebut saja Zorin OS, ChaletOS, YMLF (sudah wafat) dan UbuntuKylin (Turunan Ubuntu dari China). Yang tidak se-viral Linux Mint.

Loh, kok kenapa gak viral?

Simple-nya balik lagi ke alasan sebelumnya, karena belum banyak orang yang tahu dan membahasnya…

Linux Mint Berani Membuat Desktop Cinnamon & MATE

Ini alasan selanjutnya yang menurut saya pribadi paling berpengaruh terhadap “value” Linux Mint dimata pengguna, yaitu berani mengeluarkan Cinnamon & MATE (Gnome2) disaat Ubuntu melakukan “blunder” dengan mengembangkan Unity.

Jujur saja, pada saat itu, kisaran tahun 2011, Unity memang sukses menimbulkan pro & kontra.

Support Multimedia Populer Secara Default (Include Codecs)?

Alasan ini sebenarnya sudah tidak berlaku bagi Linux Mint versi 18 keatas.

Dengan kata lain, untuk memutar file multimedia di Linux Mint harus menginstall codecs secara manual.

Berbeda dengan Linux Mint versi 17 kebawah yang sudah menyediakannya secara default.

Alasan Lainnya?

Entahlah, karena saya-pun masih memikirkannya…

Oia, artikel ini hanya sekedar opini bebas yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Mari kita bersepakat untuk tidak sependapat. Sebagai penutup, izinkan saya tertawa sejenak, hahahaha…

Sebagai bonus karena telah membaca artikel gak jelas ini sampai selesai, saya berikan eBook Belajar Linux Mint Dari Dasar Untuk Pemula yang bisa didownload dihalaman ini gratis.

ludy

Cuma pengen punya media yang berfungsi layaknya rumah didunia maya, dan personal blog inilah tempatnya (mohon maaf konten masih dalam proses migrasi). Selamat menikmati semua artikel yang saya buat, semoga bermanfaat...

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *